Friday, 8 September 2023

Insight dan Perenungan.

 Insight dan Perenungan. 

Ajahn Sumedho

Diterjemahkan oleh Ervin Liong


[Insight hanya bisa datang melalui perenungan / refleksi; mereka tidak bisa datang melalui keyakinan. Jika Anda menemukan bahwa dengan melekat pada keinginan Anda adalah pembebasan, maka lakukanlah. MELEKATLAH PADA SEMUA KEINGINAN DAN LIHATLAH HASILNYA.]

Seluruh tujuan ajaran Buddha adalah mengembangkan pikiran reflektif untuk melepaskan delusi. EMPAT KEBENARAN MULIA ADALAH AJARAN TENTANG MELEPASKAN DENGAN MENYELIDIKI ATAU MELIHAT KE DALAM — MERENUNGKAN: 'Mengapa seperti ini? Kenapa begini? 'Adalah baik untuk merenungkan hal-hal seperti mengapa para biarawan mencukur kepala mereka atau mengapa Buddha-rupa terlihat seperti yang mereka adanya. Kita merenungkan ... pikiran juga membentuk opini tentang apakah ini baik, buruk, berguna atau tidak berguna. Pikiran sebenarnya membuka dan mempertimbangkan, 'Apakah artinya ini? Apa yang dilambangkan oleh para biarawan? Mengapa mereka membawa mangkuk sedekah? Kenapa mereka tidak bisa memiliki uang? Mengapa mereka tidak bisa menanam makanan mereka sendiri? 

Monday, 22 March 2021

RENUNGAN: "Sebenarnya"

 RENUNGAN: "Sebenarnya"

šŸ‘‰ Berbuat baik pada orang itu kelihatannya maupun faktanya, akan tetapi sebenarnya; ketika orang berbuat baik membantu orang lain, itu berbuat baik pada dirinya sendiri. Jika hukum kebenaran yang digunakan orang untuk memahahi, akan perbuatan baik itu.

šŸ‘‰ Perbuatan jahat pada orang yang dilakukan, itu hanya kelihatannya berdasar fakta. Akan tetapi yang sebenarnya, orang melakukan perbuatan jahat pada orang lain itu, melakukan kejahatan pada dirinya sendiri. Karena setiap perbuatan, pasti kembali pada pelakunya, tinggal tunggu waktunya saja. Jika orang memahami dari hukum kebenaran, bukan hanya dilihat dari faktanya yang terlihat oleh mata.

šŸ‘‰ Sebenarnya dari diri sendiri kebaikan mau pun kejahatan, bukan berasal dari orang lain. Seperti halnya orang bercermin, bukan cermin menyediakan warna pakaian yang dipakai. Akan tetapi, cermin hanya memantulkan atau mengembalikan warna pakaian yang digunakan orang saat bercermin.

šŸ‘‰ Dengan menyadari serta memahami hukum kebenaran sebab akibat, orang hanya akan berbuat baik, dan semangat melakukan kebaikan kepada siapa pun; karena orang lain hanya sebagai sarana untuk berbuat baik. Yang sebenarnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri.

✍️ (B.Saddhaviro)

Wednesday, 10 February 2021

MUSUH YANG SANGAT KITA SAYANGI BERNAMA KLESHA

 MUSUH YANG SANGAT KITA SAYANGI BERNAMA KLESHA


"Apa yang sebelumnya terjadi?

Seseorang sudah di dalam pikiranku sejak waktu tak bermula.

Kapan itu terjadi?

Sekejap pun pikiran itu tidak pernah lenyap.

Siapakah mereka?

Aku hidup, dan hidup lagi, faktor-faktor mental pengganggu.

Dan pada akhirnya?

Mereka akan meninggalkanku untuk membusuk di dalam samudera penderitaan hidup, yang tak kelihatan ujungnya.


Bagaimana dengan karma?

Ia datang bagai angin, dengan segala hal yang tak pernah kuinginkan.

Seberapa jauh?

Ia menderaku dalam segala arah, mengobarkan gelombang besar, ketiga jenis penderitaan.

Seberapa lama?

Bisa jadi aku mengembara di samudera ini untuk selama-lamanya; suluh akan berputar, dan lingkaran api pun berkobar.


Apa yang seharusnya kulihat?

Pikirkanlah ini, dan lihatlah betapa gangguan-gangguan pada batin adalah musuh sesungguhnya.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Musuh berupa keinginan menjalani kehidupan saat ini haruslah binasa.

Siapa yang akan melakukannya?

Berpura-puralah engkau cukup ksatria untuk menjadi sosok yang melakukannya.


Kapan ia akan datang?

Musuh-musuhmu, gangguan-gangguan di dalam batin, senantiasa di sana menunggu, siap sedia untuk bertempur.

Lalu sekarang?

Waktunya sudah pasti telah tiba: majulah sekarang juga dan taklukkan mereka.


Y.M.S. Dalai Lama V - Instruksi Lisan Manjughosa


Seperti yang ditunjukkan oleh baris-baris di atas, ada satu hal yang bertindak selaku penyebab akar dari seluruh penderitaan kita di dalam lingkaran kehidupan. Ini tak lain tak bukan adalah musuh dalam bentuk faktor-faktor mental pengganggu (Klesha), yang begitu kita sayangi, begitu dekat dengan hati kita.


Simak artikel selengkapnya di tautan berikut ini: 

https://www.facebook.com/8479004128828105/posts/23970008672634400/

Monday, 8 February 2021

Praktik Niat Baik

 Praktik Niat Baik

Bhikkhu Ṭhānissaro

Sang Buddha mengawali instruksi-instruksinya [kepada Rāhula, putranya] dengan gambar dari sebuah cermin: Sama seperti Anda menggunakan sebuah cermin untuk melihat bagaimana Anda memandang orang lain, Rāhula harus melihat tindakan-tindakannya untuk melihat bagaimana penampilannya di mata yang bijak. Dan yang bijak akan menyuruhnya menilai tindakannya seperti ini:

— Apa pun yang dia lakukan dalam pemikiran, perkataan, dan perbuatan, pertama-tama dia memeriksa niatnya: 


— Jika dia mengetahui sebelumnya bahwa tindakan yang dia rencanakan akan menyebabkan bahaya (melukai) di dalam atau di luar, dia tidak boleh bertindak berdasarkan niat itu. Jika dia tidak mengetahui sebelumnya bahayanya, dia bisa terus maju dan bertindak. 


— Saat bertindak, dia memeriksa hasil-hasil tindakannya. Jika dia menyebabkan bahaya yang tidak terduga, dia harus berhenti. Jika tidak, dia bisa melanjutkan tindakannya.


— Setelah tindakan selesai, dia harus melihat hasil-hasil jangka panjang dari tindakan tersebut. Jika ternyata dia telah menyebabkan bahaya [melukai] dalam PERKATAAAN ATAU PERBUATAN, dia harus membicarakannya dengan seorang teman terpercaya pada sang jalan yang akan menasihatinya tentang bagaimana untuk menghindari penyebab bahaya itu terulang kembali. 


Kemudian dia harus memutuskan untuk tidak mengulangi tindakan itu. Jika PEMIKIRAN-PEMIKIRANNYA menyebabkan bahaya, DIA SEHARUSNYA MERASA MALU DENGAN PEMIKIRAN SEPERTI ITU DAN BERTEKAD UNTUK TIDAK MENGULANGINYA. Namun, jika dia tidak menyebabkan bahaya, dia harus bersukacita atas kemajuannya pada sang jalan tersebut, dan terus berlatih.


Dengan cara ini, Sang Buddha tidak begitu saja menyuruh Rāhula untuk tidak menyakiti. Sebaliknya, dia mengatakan kepadanya, pada dasarnya, "COBALAH UNTUK TIDAK MENYEBABKAN BAHAYA (MELUKAI), TETAPI JIKA ANDA MENYEBABKAN BAHAYA, INILAH CARA ANDA BELAJAR DARI KESALAHAN-KESALAHAN ANDA." Ini menunjukkan dasar praktik niat baik yang meliputi ajaran-ajaran ini.


Refleksi dari Ajahn Geoff [Thanissaro Bhikkhu] ini berasal dari buku: First Things First, (pdf) hlm. 15-16.


Diterjemahkan oleh Ervin Liong

Sunday, 7 February 2021

Melihat secara obyektif

 RENUNGAN: "Melihat secara obyektif"

šŸ‘‰ Ketika orang benci, dan rasa benci itu tumbuh berkembang dalam batin, semuanya terlihat jelek. Walau pun orang baik, tidak terlihat kebaikannya. Jangan melihat dengan kebencian pada orang lain, tidak akan terlihat sebenarnya, karena pengaruh dari sifat benci itu, tidak bisa terlihat secara obyektif.  


šŸ‘‰ Ketika orang suka, dan rasa suka itu tumbuh berkembang menguasai batin, semua yang terlihat pada orang tersebut menjadi indah. Jika melihat pada orang yang disukai dengan perasaan suka, maka nyaris sempurna, dan  tidak terlihat akan kekurangannya. Demikianlah rasa suka itu tidak akan obyektif, untuk melihat tidak akan terlihat sebenarnya.


šŸ‘‰ Ketika orang netral, dan batinnya tidak dikuasai oleh rasa benci maupun suka, jika melihat orang akan terlihat sebagaimana adanya orang tersebut. Akan terlihat kekurangannya, mau pun terlihat dari kelebihannya secara obyektif, jika batin dalam keadaan netral.


šŸ‘‰ Orang bisa benci, sebelum sempurna. Dan orang juga sering merasa suka, pada orang lain. Keduanya rasa benci dan suka, tidak bisa digunakan melihat secara obyektif, hanya dengan batin seimbang serta perasaan yang netral, bisa melihat orang lain secara obyektif.


✍️ (B.Saddhaviro).

Wednesday, 6 January 2021

Hidup Di dunia

 Hidup Di dunia 


Salah satu siswa Ajaan Fuang yang lain sedang mengalami masalah serius, baik di rumah maupun di tempat kerjanya, maka Ajahn menaikkan semangat juangnya: "Siapapun yang merupakan orang yang hidup dan nyata, haruslah menghadapi masalah yang nyata dan hidup di dalam hidup."

— Ketika Anda menghadapi rintangan, Anda harus berjuang. Jika Anda mudah menyerah, Anda akan berakhir menyerah sepanjang hidup Anda.

— Katakanlah pada diri Anda sendiri bahwa Anda terbuat dari inti kayu, dan bukan dari kulit luar kayu yang lunak (gubal).


— Jika ada muridnya yang menaruh dendam tentang sesuatu, dia akan mengatakan kepada mereka: "anda bahkan tidak dapat mengorbankan sesuatu yang sekecil ini? ANGGAPLAH SAJA SEBAGAI MEMBERIKAN SUATU HADIAH. Ingatlah berapa banyak hal berharga yang sang Buddha korbankan selama hidupnya sebagai Pangeran Vessantara, dan kemudian bertanyalah kepada diri anda sendiri, 'KEMARAHAN SAYA INI TIDAK ADA NILAINYA SAMA SEKALI. MENGAPA SAYA TIDAK BISA MENGORBANKANNYA JUGA?'


— Berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Jangan menjadi tipe orang yang bertindak lebih dahulu dan kemudian harus memikirkannya setelah itu.

— Waspadalah terhadap kejatuhan dalam kebaikan hati: di mana Anda ingin membantu orang lain, tetapi sebagai ganti anda menarik mereka ke atas, mereka menjatuhkan Anda.

— Ketika orang mengatakan sesuatu itu adalah baik, itu adalah pemikiran mereka tentang kebaikan. Tetapi apakah itu selalu yang benar-benar baik untuk Anda?


— Jika orang membenci Anda, saat itulah Anda terlepas dari kail. Anda dapat datang dan pergi sesuka Anda tanpa harus khawatir apakah mereka akan merindukan Anda atau menjadi kesal karena apa yang anda lakukan. Dan ANDA TIDAK HARUS MEMBAWA HADIAH APAPUN UNTUK MEREKA KETIKA ANDA KEMBALI. Anda bebas melakukan apapun yang Anda suka.


Diterjemahkan oleh: Ervin Liong

Dari: Living in the world ~ Ajahn Fuang Jotiko


https://www.accesstoinsight.org/lib/thai/fuang/itself.html

Gelang karet

 Gelang karet 

[Ketika saatnya tiba, Anda harus rela untuk pergi. Hidup bukanlah gelang karet yang bisa anda renggangkan atau susutkan sesuka anda.]

********


— Salah satu murid Ajaan Fuang, ketika dia menderita penyakit liver yang parah, bermimpi bahwa dia telah meninggal dan pergi ke surga.  Dia menganggap ini sebagai suatu pertanda buruk dan kemudian pergi ke Wat Makut untuk menceritakan mimpinya kepada Ajaan Fuang.  


Ajahn mencoba menghiburnya, mengatakan bahwa itu benar-benar suatu pertanda baik yang tersamar. Jika dia selamat dari penyakitnya, dia mungkin akan mendapat promosi di tempat kerja. Jika tidak, dia akan terlahir kembali dalam keadaan yang baik. 


Namun, begitu Ajahn mengatakan ini, dia menjadi sangat kesal: "Tapi saya belum siap untuk mati!"

"PERHATIKAN," katanya, "KETIKA SAATNYA TIBA, ANDA HARUS RELA UNTUK PERGI. HIDUP BUKANLAH GELANG KARET YANG BISA ANDA RENGGANGKAN ATAU SUSUTKAN SESUKA ANDA."


— Jika ada kesenangan sensual yang benar-benar Anda dambakan, ITU PERTANDA ANDA MENIKMATINYA SEBELUMNYA DI KEHIDUPAN SEBELUMNYA. ITULAH MENGAPA ANDA SANGAT MERINDUKANNYA KALI INI. Jika Anda memikirkan tentang hal ini cukup lama, itu sudah cukup untuk membuat Anda melepaskan dan kecewa.


Diterjemahkan oleh: Ervin Liong

Dari: Living in the world ~ Ajahn Fuang Jotiko


https://www.accesstoinsight.org/lib/thai/fuang/itself.html


Thursday, 24 December 2020

 PUPPHA VAGGA

Kisah Garahadinna

(Dhammapada 4 : 58)

Seperti tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan,

tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.

Ada dua orang sahabat bernama Sirigutta dan Garahadinna tinggal di Savatthi. Sirigutta adalah seorang pengikut Buddha dan Garahadinna adalah pengikut Nigantha, pertapa yang memusuhi Sang Buddha.

Dalam hal berkaitan dengan Nigantha, Garahadinna seringkali berkata kepada Sirigutta, “Apa manfaat yang kamu dapatkan menjadi pengikut Buddha? Kemarilah, jadilah pengikut guruku.” Setelah berulang kali dibujuk, Sirigutta berkata kapada Garahadinna, “Katakan padaku, apa yang diketahui oleh gurumu?” Garahadinna mengatakan bahwa gurunya dapat mengetahui segalanya. Dengan kekuatannya, dia dapat mengetahui masa lampau, saat ini, dan masa depan dan juga dapat membaca pikiran orang lain. Maka, Sirigutta mengundang Nigantha untuk datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan.

Tuesday, 22 December 2020

MENGAPA VEDANĀ/PERASAAN ADALAH BUKAN DIRI

 Disalin dr fb Bhante Ashin VappašŸ™

MENGAPA VEDANĀ/PERASAAN ADALAH BUKAN DIRI

“Para bhikkhu, jika vedanā adalah diri, inti dari tubuh, maka vedanā tidak akan cenderung menyakiti atau menyusahkan. Dan seseorang akan dapat mengatakan tentang vedanā, “Biarlah vedanā seperti ini (selalu menyenangkan); biarlah vedanā tidak seperti ini (selalu tidak menyenangkan). Adalah mungkin mempengaruhi vedanā dengan cara ini sesuai keinginan seseorang.

sseorang Bhikkhu yang menghidupi ibunya

 GIJJHA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Seekor burung hering bisa melihat bangkai,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru tentang seorang bhikkhu yang menghidupi ibunya.

Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Sāma-Jātaka 38 . Sang Guru bertanya kepadanya apakah dia, seorang bhikkhu, benar menghidupi umat awam yang masih hidup di dunia ini. Bhikkhu ini mengiyakannya. “Apakah hubungan dirinya denganmu?” Sang Guru melanjutkan. “Mereka adalah orang tua saya, Bhante.” “Bagus, bagus,” kata Sang Guru; dan meminta para bhikkhu untuk tidak marah kepada bhikkhu ini. “Orang bijak di masa lampau,“ katanya, “telah melayani orang-orang yang bahkan bukan sanak saudaranya, kewajiban orang ini adalah menghidupi orang tuanya sendiri.” Berbicara tentang ini, Beliau kemudian menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Monday, 21 December 2020

Sifat Dhammamma

 Dhamma Nature{1} ~ A Dhammatalk by Ajahn Chah

For english please refer the comment box. 

Sifat Dhamma [1/4]

Terkadang, ketika pohon buah-buahan sedang mekar, angin sepoi-sepoi menggoyangkannya dan menyebarkan bunga-bunga yang mekar ke tanah. Beberapa tunas tetap dan tumbuh menjadi buah hijau kecil. Angin bertiup dan beberapa dari mereka juga berjatuhan! Yang lain mungkin menjadi buah atau hampir matang, atau beberapa bahkan matang, sebelum jatuh. Demikian juga dengan orang-orang. Seperti bunga dan buah dalam angin, mereka juga jatuh dalam berbagai tahapan kehidupan. Beberapa orang meninggal ketika masih dalam kandungan, yang lain hanya dalam beberapa hari setelah dilahirkan. Beberapa orang hidup selama beberapa tahun kemudian meninggal, tidak pernah mencapai kedewasaan. Pria dan wanita mati di masa muda mereka. Yang lainnya mencapai usia lanjut sebelum mereka meninggal. Ketika merenungkan atas orang-orang, pertimbangkanlah sifat buah dalam angin: keduanya sangat tidak pasti. Sifat hal-hal yang tidak pasti ini juga dapat dilihat dalam kehidupan biara. Beberapa orang datang ke biara yang bermaksud untuk ditahbiskan tetapi berubah pikiran dan pergi, beberapa dengan kepala yang sudah dicukur. Yang lain sudah menjadi samanera, lalu mereka memutuskan untuk pergi. Beberapa ditahbiskan hanya pada satu Retret Hujan kemudian melepas jubah. 

Saturday, 8 August 2020

DEWA-DEWA (Dalam Agama Buddha) .

DEWA-DEWA
(Dalam Agama Buddha) .

Dalam pandangan Agama Buddha, alam surga di mana para Dewata dan makhluk surgawi tinggal, sekalipun dalam kurun waktu yang berbatas namun tetaplah bukan keberadaan yang kekal serta bukanlah menjadi tujuan Akhir dari Ajaran Buddha.
Alam Surga terbagi menjadi enam alam, yaitu:
1. Câtumahârâjikâ,
2. TĆ¢vatimsa,
3. Yâmâ,
4. Tusita,
5. Nimmânaratî,
6. Para-nimmitavasavattĆ®.

Friday, 7 August 2020

Āḷavaka, Si Yakkha Pemberang. Bag. 2/2

Āḷavaka, Si Yakkha Pemberang. Bag. 2/2

Setelah gagal berkali-kali, ia memutuskan untuk menyerang dengan meluncurkan senjatanya yang paling mematikan, yaitu mantel putih sakti (dussāvudha). Seraya melayang-layang di sekitar Bhagavā, ia melontarkan senjatanya ke arah Bhagavā. Senjata itu menimbulkan bunyi yang menakutkan di udara laksana senjata halilintar Dewa Indra; senjata itu menimbulkan asap dan bara api yang besar.

Thursday, 6 August 2020

Āḷavaka, Si Yakkha Pemberang, Bag. 1/2

Āḷavaka, Si Yakkha Pemberang, Bag. 1/2

Dalam masa kediaman musim hujan Bhagavā yang keenam belas, terjadi suatu peristiwa penting yang menyangkut pengalihyakinan Āḷavaka, sesosok yakkha yang sangat pemberang.

Waktu itu, Kerajaan ĀḷavÄ« diperintah oleh Raja Āḷavaka. Sang raja memiliki kebiasaan bersantai dengan berburu di hutan sekali seminggu supaya pasukannya tetap prima. Suatu hari, tatkala ia tengah berburu, kijang buruannya melarikan diri dari tempatnya menunggu; menurut kebiasaan, sudah merupakan tugas sang raja untuk menangkapnya. Dengan bersenjatakan panah, raja segera mengikuti kijang itu. Setelah berlari sepanjang tiga gāvuta (satu gāvuta sama dengan seperempat yojana), kijang itu berbaring di pinggir kolam karena keletihan; karenanya, dengan mudah raja dapat membunuh, memotong tubuhnya menjadi dua, dan menggotongnya dengan galah.

Kisah Mahakala Thera

Cerita terjadinya syair Dhammapada 7 & 8.
(TIPITAKA: Sutta Pitaka - Khuddaka Nikāya)

Kisah Mahakala Thera

Mahakala dan Culakala adalah dua saudagar bersaudara dari kota Setabya. Suatu ketika dalam perjalanan membawa barang-barang dagangannya, mereka berkesempatan untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang diberikan oleh Sang Buddha. Setelah mendengarkan khotbah tersebut, Mahakala memohon kepada Sang Buddha untuk diterima sebagai salah satu anggota pasamuan bhikkhu. Culakala juga ikut bergabung dalam anggota Sangha, tetapi dengan tujuan berkenalan dengan para bhikkhu dan menjaga saudaranya.

Wednesday, 5 August 2020

RENUNGAN: "Tiga Kemampuan"

RENUNGAN: "Tiga Kemampuan"

šŸ‘‰ Kemampuan berpikir sebelum berbicara mau pun bertindak, agar yang diucapkan mau pun diperbuat tidak menjadi masalah; oleh karena itu, sebaiknya orang sebelum berucap mau pun bertindak hendaknya dipikirkan terlebih dulu.

šŸ‘‰ Kemampuan berbicara bukan terletak pada soal apa yang orang bicarakan, melainkan bicaranya bisa menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan persoalan. Sehingga apa yang dibicarakan memberi manfaat pada pendengarnya, mau pun bermakna dan berguna bagi pembicaraannya.

šŸ‘‰ Kemampuan perbuatan jasmani ketika apa yang dilakukan orang terukur, bisa selesai pada waktunya, dan tidak menyisakan masalah. Karena sebelum dilakukan, semua telah dipahami dengan baik, sehingga bisa diselesaikan dengan baik serta bermanfaat.

šŸ‘‰ Orang yang memiliki kemampuan berpikir dengan baik, kemampuan berkata benar, dan kemampuan bertindak yang tepat; sehingga hidupnya bermanfaat bagi dirinya sendiri, mau pun pada orang lain.

✍️ (Bhikkhu Saddhaviro Mahathera)

Tuesday, 4 August 2020

Apakah kita harus menyelesaikan sebab jodoh kita atau kita bisa langsung menjadi seorang biarawan?

Dari: Ferry Liang, Yogyakarta

Namo Buddhaya,

Banthe saya mau bertanya lagi. Hidup selibat atau hidup tanpa menikah dalam arti kita membiara, bukankah menjadikan makhluk lain yang memiliki kesempatan untuk terlahir menjadi manusia menjadi hilang, dalam hal ini jika misalkan semua manusia hidup membiara. Dan bukankah Sabda Sang Buddha mengatakan bahwa semua sebab jodoh harus diselesaikan dan bila sebab jodoh itu telah muncul bukankah harus diselesaikan.

Sunday, 2 August 2020

Ambapāli, Wanita Penghibur yang Menjadi Arahāt

Ambapāli, Wanita Penghibur yang Menjadi Arahāt

Pada masa Buddha Gotama, ada seorang wanita penghibur di VesālÄ« yang menjadi siswa Buddha. Konon, ia terlahir secara spontan (opapātika). Pada suatu hari, tukang kebun yang bekerja pada seorang penguasa LicchavÄ« di VesālÄ« menemukan seorang bayi perempuan yang tergeletak di kaki sebatang pohon mangga di taman milik raja. Ia lalu membawa bayi itu ke kota. Berdasarkan kelahirannya, bayi perempuan itu diberi nama AmbapālÄ«—yang berasal dari kata “amba” yang berarti “mangga” dan “pāli” yang berarti “garis”.

Saturday, 1 August 2020

Ajahn menjelaskan tentang Satipaṭṭhāna?

Pertanyaan: Bisakah Ajahn menjelaskan tentang Satipaṭṭhāna?

Than Ajahn: Oke.  Satipaį¹­į¹­hāna Sutta mengajarkan langkah demi langkah praktik Dhamma. Langkah pertama adalah mengembangkan perhatian dan samādhi, misalnya dengan pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon di mana ia sunyi. Anda menggunakan perhatian bernafas untuk menenangkan pikiran Anda untuk masuk ke dalam samādhi.

Air di dalam Guci ~ Ajahn Chah

Air di dalam Guci ~ Ajahn Chah

Ketika tidak ada bentuk-bentuk kejahatan di dalam hati kita, semua permasalahan kita lenyap. Rasa sejuk muncul karena kita menjaga diri kita sendiri. Pikiran menjadi bajik. Ketika dia menjadi hening, dia menjadi terkonsentrasi. Ketika dia hening, dia mulai berkembang menjadi kebijaksanaan. Kita tahu bagaimana membuat pikiran jernih dan cerah. Apa pun yang jahat, kita lepaskan. Apa pun yang salah, kita kesampingkan. Kita merenungkan dan mengesampingkan hal-hal, membiarkan mereka pergi.

Ini seperti air dalam sebuah kendi. Kita mengambil gayung dan kemudian membuangnya. Mengeluarkan gayung kedua dan membuang airnya, terus ambillah airnya dan buanglah. Air di dalam kendi akhirnya akan mengering. Pikiran yang masuk ke dalam latihan adalah seperti itu.

Tetapi jika kita tidak melihat hal-hal dengan seperti ini, itu seperti menambahkan air ke dalam kendi dan kemudian mengeluarkannya, menambahkan air dan kemudian mengeluarkannya. KEBAIKAN, KEJAHATAN, KEBAIKAN, KEJAHATAN; salah, benar, salah, benar; baik, buruk, baik, buruk : MENJADI TENANG UNTUK SEJENAK, DAN KEMUDIAN KITA MENDERITA.

Sumber: In Simple Terms,
108 Perumpamaan Dhamma YM. Ajahn Chah
Diterjemahkan dari bahasa Thailand ke bahasa Inggris oleh Thanissaro Bhikkhu