Wednesday 17 January 2018

Apakah Buddha Dhamma itu kuno?

Apakah Buddha Dhamma itu kuno?

“sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci diantara orang-orang yang membenci”

Kalau kita melihat agama Buddha 'secara sekilas' maka kita akan dihadapi pada satu tanggapan bahwa agama Buddha adalah agama yang tidak menarik, agama yang kadang-kadang terlihat bersifat mistis dan sudah tidak lagi cocok dengan kehidupan modern seperti sekarang ini.
Mengapa demikian?


Coba kita perhatikan semua perlengkapan sembahyang di altar. Ada patung yang maha besar dan kita bernamaskara atau satu persujudan kepada patung tersebut sehingga orang lalu menyatakan bahwa agama Buddha adalah penyembah berhala. Kita juga akan menemukan dupa/hio dan bunga yang mirip seperti untuk sesajen.

Kemudian ada lilin yang seolah-olah berkata bahwa agama Buddha belum
percaya akan adanya listrik. Belum lagi terlihat gentong yang memberi kesan seolah-olah kita sedang berada ditoko barang antik. Kalau kita perhatikan lagi, kita akan menemukan mahluk-mahluk yang lebih antik lagi; yakni bahwa di zaman yang canggih seperti ini kita tetap duduk di lantai bila sedang melaksanakan kebaktian.

Dari sinilah kritikan-kritikan terhadap agama Buddha dilontarkan!

Kita mungkin pernah mendengar orang mengatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini dapat dimengerti karena mereka hanya melihat dari sudut/tradisi luar saja. Padahal ajaran Sang Buddha tidak pernah ketinggalan zaman.

Lalu apa buktinya bahwa agama Buddha itu mengikuti perkembangan zaman?

Setiap kali kita mengikuti kebaktian, kita tentu membaca tuntunan tisarana dan pancasila yaitu menghindari pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, penzinahan, kebohongan dan mabuk-mabukan.

Apakah pancasila ini sudah kuno dan milik agama Buddha saja?

Apakah agama lain menghalalkan pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, penzinahan, kebohongan dan mabuk-mabukan?

Tentu kita akan menjawab: “tidak!” karena semua manusia pasti harus melaksanakan Pancasila baik pada masa yang lampau, sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Ini adalah salah satu bukti bahwa ajaran Sang Buddha selalu mengikuti perkembangan zaman.

Mungkin hal ini belum dapat memuaskan saudara karena masih terlalu umum.

Untuk itu mari kita melihat intisari/jantung dari seluruh ajaran Sang Buddha.

Apakah intisari/jantung ajaran Sang Buddha itu?

Intinya adalah “kurangi kejahatan, tambahlah kebaikan, sucikan hati dan
pikiran.”

Apakah hal tersebut hanya berlaku di zaman Sang Buddha dan hanya milik agama Buddha saja?

Apakah agama lain menganjurkan: “tambahlah kejahatan, kurangi kebaikan dan kacaukan pikiran?”
tentu tidak!

Dengan demikian tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa ajaran Sang Buddha sudah kuno dan ketinggalan zaman.

Karena sesungguhnya ajaran Sang Buddha selalu mengikuti zaman!

Bahkan Albert Einstein yang terkenal sebagai bapak ilmu pengetahuan pernah menyatakan bahwa
“agama yang bisa menjawab tantangan ilmu pengetahuan adalah agama Buddha.”

Oleh karena itu berbahagialah kita sebagai umat Buddha. Namun
hanya berpuas diri sebagai umat Buddha masih belum cukup, karena ada ajaran yang lebih dalam lagi yaitu kita hendaknya bisa melaksanakan ajaran Sang Buddha didalam kehidupan sehari-hari. Ini penting sekali karena ajaran Sang buddha itu tidak hanya bersifat teori tetapi perlu dilaksanakan!

Hal ini sama dengan contoh orang yang mempunyai hobby berenang. Misalnya saudara diberitahu bahwa berenang itu menyenangkan dan dengan bisa berenang maka saudara tidak perlu lagi takut kepada air. Lalu saudara suka berkhayal tentang berenang. Tetapi karena saudara tidak pernah mau mencoba, apakah saudara akan bisa berenang, walaupun teori-teori berenang sudah saudara kuasai? Apakah saudara cuma cukup berbangga: “ah… saya 'kan bisa teori berenang” tentu tidak! Demikian pula dengan ajaran Sang Buddha! Ajaran Sang Buddha memang sungguh luar biasa, begitu agung, begitu indah dan tidak pernah ketinggalan  zaman

Y.M. Bht Uttamo, Mahathera

No comments:

Post a Comment