Sunday, 17 June 2018

Jika kebijaksanaan kita berkembang maka berkah akan datang dengan sendirinya.

Dalam mempraktekkan Buddha Dharma banyak sekali umat menjadi takhayul, begitu banyak paritta yang sudah di lafalkan, banyak berdana, mengunjungi banyak vihara dan duduk setelah lama meditasi, kenal banyak Rinpoche, Suhu dan para Bhante.
Akan tetapi bisnis dan semua keinginan tidak lancar.
Apakah Buddha Dharma tidak mempunyai manfaat dalam berkah kehidupan ini.
Dan kecurigaan mulai muncul.
Ini semua karena kita belajar Buddha Dharma tanpa melatih diri.
Sang Buddha mengatakan bahwa walaupun anda belajar dan mempraktekan Buddha Dharma, anda tetap akan sakit, tua dan mati.
Dan Sang Buddha juga tidak menjanjikan bahwa setelah kita belajar Buddha Dharma kita akan menjadi kaya raya dan sukses dalam usaha, Tipitaka tidak pernah ada perjanjian demikian.

Akan tetapi jika kita belajar dan mempraktekan Buddha Dharma maka kebijaksanaan kita akan tumbuh maka berkah dan kebahagiaan kita juga akan ikut berkembang.
Jika hari ini hujan maka secara spontan selokan dan parit juga akan penuh dengan air.
Jika kebijaksanaan kita berkembang maka berkah akan datang dengan sendirinya.

~ Passang Rinpoche

Thursday, 14 June 2018

Dhammadesana oleh Ajahn Visalo

Dhammadesana oleh Ajahn Visalo

5 Mei 2018, Vihara Toa Se Bio

Ada saatnya kita sakit, tua dan meninggal. Ini merupakan fakta kehidupan, suka atau tidak suka. Malah ada yang belum sampai tua sudah meninggal.

Sebelum Sang Buddha terbebaskan, saat menjadi Pangeran, melihat fakta org sakit, tua dan meninggal yang membuat beliau akhirnya berlatih dan menjadi Buddha. Beliau terguncang saat melihat fakta2 kehidupan tersebut. Ini membuat Sang Buddha berpikir semua suatu saat akan hilang. Saat Sang Buddha melihat pertapa, memberi harapan bagi beliau mungkin ada jalan utk terbebas dari fakta2 tua, sakit, menderita dan meninggal. Akhirnya beliau meninggalkan kerajaan

Monday, 11 June 2018

Khotbah tentang Māra

Māra Sutta
(Khotbah tentang Māra)

Di Sāvatthī. Yang Mulia Rādha mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, dikatakan ‘Māra, Māra.’ Bagaimanakah, Yang Mulia, Māra itu?”

“Ketika ada bentuk (rūpe), Rādha, maka di sana ada Māra, atau pembunuh, atau seorang yang terbunuh. Oleh karena itu, Rādha, lihatlah bentuk (rūpaṃ) sebagai Māra, lihatlah ia sebagai pembunuh, lihatlah ia sebagai seorang yang terbunuh. Lihatlah ia sebagai penyakit, sebagai tumor, sebagai anak panah, sebagai kesengsaraan, sebagai kesengsaraan sejati. Mereka yang melihat demikian, melihat dengan benar.

“Ketika ada perasaan (vedanāya)… Ketika ada persepsi (saññāya)… Ketika ada bentukan-bentukan kehendak (saṅkhāresu)… Ketika ada kesadaran (viññāṇe), Rādha, maka di sana ada Māra, atau pembunuh, atau seorang yang terbunuh. Oleh karena itu, Rādha, lihatlah kesadaran (viññāṇaṃ) sebagai Māra, lihatlah ia sebagai pembunuh, lihatlah ia sebagai seorang yang terbunuh. Lihatlah ia sebagai penyakit, sebagai tumor, sebagai anak panah, sebagai kesengsaraan, sebagai kesengsaraan sejati. Mereka yang melihat demikian, melihat dengan benar.”

“Apakah, Yang Mulia, tujuan melihat dengan benar (sammādassanaṃ)?”

“Tujuan melihat dengan benar (sammādassanaṃ), Rādha, adalah kejijikan (nibbidatthaṃ).”

“Dan apakah, Yang Mulia, tujuan kejijikan (nibbidā)?”

“Tujuan kejijikan (nibbidā) adalah kebosanan (virāgatthā).”

“Dan apakah, Yang Mulia, tujuan kebosanan (virāgo)?”

“Tujuan kebosanan (virāgo) adalah pembebasan (vimuttattho).”

“Dan apakah, Yang Mulia, tujuan pembebasan (vimutti)?”

“Tujuan pembebasan (vimutti) adalah Nibbāna.”

“Dan apakah, Yang Mulia, tujuan Nibbāna?”

“Engkau telah melampaui batas pertanyaan, Rādha. Engkau tidak mampu menangkap batas dalam mempertanyakan itu. Karena, Rādha, kehidupan suci dijalani dengan Nibbāna sebagai dasar, Nibbāna sebagai sasaran, Nibbāna sebagai tujuan akhir.”

Saṃyutta Nikāya 23.1

Sunday, 10 June 2018

Khotbah tentang Ini Milikku

Etaṃmama Sutta
(Khotbah tentang Ini Milikku)

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, ketika ada apakah, dengan melekat pada apakah, dengan terikat pada apakah, maka seseorang menganggap hal-hal sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?”

“Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavā …”

“Ketika ada bentuk, para bhikkhu, dengan melekat pada bentuk, dengan terikat pada bentuk, maka seseorang menganggap hal-hal sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku.’ Ketika ada perasaan … persepsi … bentukan-bentukan kehendak … kesadaran, dengan melekat pada kesadaran, dengan terikat pada kesadaran, maka seseorang menganggap hal-hal sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku.’

“Bagaimanakah menurut kalian, para bhikkhu, apakah bentuk … kesadaran adalah kekal atau tidak kekal?”

“Tidak kekal, Yang Mulia.” ...

“Tetapi tanpa melekat pada apa yang tidak-kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, dapatkah seseorang menganggap hal-hal sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku.’?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Melihat demikian … Ia memahami: ‘ … tidak ada lagi penjelmaan dalam kondisi makhluk apa pun.’”

Saṃyutta Nikāya 22.151

Saturday, 9 June 2018

Apakah Buddha Dhamma itu kuno?

Apakah Buddha Dhamma itu kuno?

“sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci diantara orang-orang yang membenci”

Kalau kita melihat agama Buddha 'secara sekilas' maka kita akan dihadapi pada satu tanggapan bahwa agama Buddha adalah agama yang tidak menarik, agama yang kadang-kadang terlihat bersifat mistis dan sudah tidak lagi cocok dengan kehidupan modern seperti sekarang ini.
Mengapa demikian?