Menabung Sebagai Bekal Hidup
Kita sering mendengarkan anjuran dari orang tua agar kita rajin menabung sehingga dimasa datang akan dimudahkan kehidupannya karena memiliki tabungan.
Demikianpula kehidupan kita pada saat ini, maupun kehidupan setelah kematian. Setiap orang akan menikmati hasil dari tabungan yang sudah diperbuat. Tabungan kebajikan menikmati kemudahan, tabungan keburukan menuai kesulitan.
Guru agung Buddha selalu mengingatkan kita untuk melakukan kebajikan sebagai tabungan. Bekal tabungan kebajikan setelah kematian yang akan kita tuai dimasa datang dalam banyak kemudahan.
"Semua makhluk akan mati, Karena kehidupan berakhir pada kematian. Mereka akan mengembara sesuai dengan perbuatan mereka, Memetik buah dari kebajikan dan kejahatan mereka: Pelaku kejahatan pergi ke neraka, Pelaku kebajikan menuju alam bahagia.
Oleh karena itu, seseorang harus melakukan apa yang baik Sebagai Tabungan bagi kehidupan mendatang. Kebajikan adalah penyokong makhluk hidup [Ketika mereka muncul] di alam lain.” (S.i, 97)
B.Diki Nyanamano S.Pd., CPS®
Thursday, 7 June 2018
Tuesday, 5 June 2018
DUA JENIS TANGISAN
DUA JENIS TANGISAN
oleh : Andi Kusnadi
Ini adalah penjelasan dari pertanyaan yang diajukan oleh seorang yogi pada Sayadaw.
Pertanyaan :
Saya sangat menikmati meditasi selama retret, tetapi karena berbagai macam hal, saya harus kembali ke rumah.
Kesenangan yang didapat tak dapat dibandingkan dengan
kesenangan lain apapun. Saya ingin menangis dan sebenarnya saya menangis ketika saya
harus kembali ke rumah. Apakah ini baik? Apakah ini merupakan keadaan baik (kusala) atau keadaan tidak baik (akusala)?
oleh : Andi Kusnadi
Ini adalah penjelasan dari pertanyaan yang diajukan oleh seorang yogi pada Sayadaw.
Pertanyaan :
Saya sangat menikmati meditasi selama retret, tetapi karena berbagai macam hal, saya harus kembali ke rumah.
Kesenangan yang didapat tak dapat dibandingkan dengan
kesenangan lain apapun. Saya ingin menangis dan sebenarnya saya menangis ketika saya
harus kembali ke rumah. Apakah ini baik? Apakah ini merupakan keadaan baik (kusala) atau keadaan tidak baik (akusala)?
Monday, 4 June 2018
REVATA, SUCIWAN CILIK
REVATA, SUCIWAN CILIK
Setelah Sariputra menjadi bhikkhu, adik-adiknya pun ikut menjadi bhikkhu dan bhikkhuni, hingga tersisa adik bungsu mereka, Revata.
Karena takut anak bungsu mereka ini menjadi bhikkhu, orang tua mereka segera menikahkan Revata yang masih berusia 7 tahun. Pada pesta pernikahannya, Revata didoakan supaya berumur panjang seperti neneknya. Saat Revata bertemu dengan neneknya yang telah tua, ia menjadi ketakutan karena ia dan istrinya juga akan menjadi tua. Revata lalu melarikan diri.
Revata bertemu dengan sekumpulan bhikkhu yang pernah diberi pesan oleh Bhikkhu Sariputra untuk mentahbiskan Revata menjadi Samanere apabila bertemu dengannya. Revata pun ditahbiskan menjadi Samanera.
Suatu saat, Samanera Revata ingin ke Savatthi untuk menemui Bhikkhu Sariputra. Bhikkhu di wihara mengajarkan meditasi kepada Revata supaya ia siap melewati perjalanan yang berbahaya.
Di tengah hutan, turunlah musim hujan. Samanera Revata tidak bisa meneruskan perjalanannya. Ia akhirnya bermeditasi di hutan dan mencapai kesucian tertinggi dan meraih kesaktian.
Setelah musim hujan berakhir, Sang Buddha dan Sariputra serta beberapa bhikkhu lainnya pergi mengunjungi Revata. Mereka melewati daerah yang tidak berpenghuni, dimana tidak ada yang memberikan makanan atau tumpangan tempat tinggal. Saat itu, Sang Buddha juga mengajak Bhikkhu Sivali, Bhikkhu Yang Unggul Dalam Memperoleh. Berkat Bhikkhu Sivali, rombongan menerima makanan dan dibangunkan wihara oleh para dewa.
Sementara itu, dengan kesaktiannya, Revata mengetahui kedatangan rombongan Sang Buddha dan membangun vihara untuk tempat tinggal Sang Buddha dan para bhikkhu.
Rombongan Sang Buddha tinggal disana selama 2 bulan. Setelah itu, Bhikkhu Sariputra mengajak Revata untuk tinggal bersama di Savatthi, namun Revata menolak. Ia lebih suka tinggal di hutan. Sang Buddha memberi julukan kepada Revata sebagai Bhikkhu Yang Unggul Dalam Tinggal di Hutan.
(Anguttara Nikaya i, 24; Dhammapada Atthakatha ii, 188)
Setelah Sariputra menjadi bhikkhu, adik-adiknya pun ikut menjadi bhikkhu dan bhikkhuni, hingga tersisa adik bungsu mereka, Revata.
Karena takut anak bungsu mereka ini menjadi bhikkhu, orang tua mereka segera menikahkan Revata yang masih berusia 7 tahun. Pada pesta pernikahannya, Revata didoakan supaya berumur panjang seperti neneknya. Saat Revata bertemu dengan neneknya yang telah tua, ia menjadi ketakutan karena ia dan istrinya juga akan menjadi tua. Revata lalu melarikan diri.
Revata bertemu dengan sekumpulan bhikkhu yang pernah diberi pesan oleh Bhikkhu Sariputra untuk mentahbiskan Revata menjadi Samanere apabila bertemu dengannya. Revata pun ditahbiskan menjadi Samanera.
Suatu saat, Samanera Revata ingin ke Savatthi untuk menemui Bhikkhu Sariputra. Bhikkhu di wihara mengajarkan meditasi kepada Revata supaya ia siap melewati perjalanan yang berbahaya.
Di tengah hutan, turunlah musim hujan. Samanera Revata tidak bisa meneruskan perjalanannya. Ia akhirnya bermeditasi di hutan dan mencapai kesucian tertinggi dan meraih kesaktian.
Setelah musim hujan berakhir, Sang Buddha dan Sariputra serta beberapa bhikkhu lainnya pergi mengunjungi Revata. Mereka melewati daerah yang tidak berpenghuni, dimana tidak ada yang memberikan makanan atau tumpangan tempat tinggal. Saat itu, Sang Buddha juga mengajak Bhikkhu Sivali, Bhikkhu Yang Unggul Dalam Memperoleh. Berkat Bhikkhu Sivali, rombongan menerima makanan dan dibangunkan wihara oleh para dewa.
Sementara itu, dengan kesaktiannya, Revata mengetahui kedatangan rombongan Sang Buddha dan membangun vihara untuk tempat tinggal Sang Buddha dan para bhikkhu.
Rombongan Sang Buddha tinggal disana selama 2 bulan. Setelah itu, Bhikkhu Sariputra mengajak Revata untuk tinggal bersama di Savatthi, namun Revata menolak. Ia lebih suka tinggal di hutan. Sang Buddha memberi julukan kepada Revata sebagai Bhikkhu Yang Unggul Dalam Tinggal di Hutan.
(Anguttara Nikaya i, 24; Dhammapada Atthakatha ii, 188)
Sunday, 3 June 2018
Khotbah tentang Tempayan
Ghaṭa Sutta
(Khotbah tentang Tempayan)
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahāmoggallāna sedang berdiam di Rājagaha dalam satu tempat tinggal di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Kemudian, pada suatu malam, Yang Mulia Sāriputta keluar dari keheningan dan mendekati Yang Mulia Mahāmoggallāna. Ia saling bertukar sapa dengan Yang Mulia Mahāmoggallāna dan, ketika mereka mengakhiri ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepadanya:
(Khotbah tentang Tempayan)
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahāmoggallāna sedang berdiam di Rājagaha dalam satu tempat tinggal di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Kemudian, pada suatu malam, Yang Mulia Sāriputta keluar dari keheningan dan mendekati Yang Mulia Mahāmoggallāna. Ia saling bertukar sapa dengan Yang Mulia Mahāmoggallāna dan, ketika mereka mengakhiri ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepadanya:
Friday, 1 June 2018
Luangkan Waktu Untuk Membaca Kisah Ini
Nasib Bisakah Dirubah" ?
(Luangkan Waktu Untuk Membaca Kisah Ini)
Alkisah hiduplah seorang peramal terkenal bernama Chen Pau Lie dan seorang anak laki-laki tunggalnya bernama Chen Wen Cien disebuah kota kecil di Cina selatan. Pak Lie umurnya sudah 60 tahun dan anaknya baru berumur 19 tahun sedangkan istri dari pak Lie telah meninggal waktu Wen Cien berumur 15 tahun. Bapak dan anak ini hidup dengan serba bercukupan, hal ini dikarenakan pak Lie selain menjadi peramal terkenal yang ramalannya selalu tepat dia juga adalah tabib terkenal juga. Tugas Wen Cien setiap pulang sekolah adalah meracik obat-obatan di apotik mereka bersama dua orang pembantunya sementara pak Lie sibuk melayani pasien yang sangat banyak setiap harinya.
(Luangkan Waktu Untuk Membaca Kisah Ini)
Alkisah hiduplah seorang peramal terkenal bernama Chen Pau Lie dan seorang anak laki-laki tunggalnya bernama Chen Wen Cien disebuah kota kecil di Cina selatan. Pak Lie umurnya sudah 60 tahun dan anaknya baru berumur 19 tahun sedangkan istri dari pak Lie telah meninggal waktu Wen Cien berumur 15 tahun. Bapak dan anak ini hidup dengan serba bercukupan, hal ini dikarenakan pak Lie selain menjadi peramal terkenal yang ramalannya selalu tepat dia juga adalah tabib terkenal juga. Tugas Wen Cien setiap pulang sekolah adalah meracik obat-obatan di apotik mereka bersama dua orang pembantunya sementara pak Lie sibuk melayani pasien yang sangat banyak setiap harinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)